Sabtu, 02 Maret 2013

PENGERTIAN KHIYAR DAN RIBA


PENGERTIAN KHIYAR

Akad yang sempurna haruslah terhindar dari khiyar, yang memungkinkan aqid (orang yang akad) membatalkannya. Pengertian Khiyar menurut ualama fiqih adalah suatu keadaan yang menyebabkan aqid memiliki hak untuk memutuskan akadnya, yakni menjadikan atau membatalkan jika khiyar tersebut berupa khiyar syarat, 'aib atau ru'yah, atau hendaklah memilih di antara dua barang jika khiyar ta'yin.
Jumlah khiyar sangan banyak. Menurut ulama Hanafiyah, jumlahnya ada 17. Sedangkan menurut ulam Malikiyah, membagi khiyar menjadi dua bagian, yaitu khiyar al-taammul (melihat, meneliti) adalah khiyar secara mutlak dan khiyar naqish (kurang), yakni apabila terdapat kekurangan atau 'aib pada barang yang dijual (khiyar al_hukmy). Ulama Malikiyah berpendapat bahwa khiyar majlis itu batal. 

KHIYAR PALING MASYUR
1. Khiyar Syarat
a. khiyar syarat menurut ulama fiqih adalah suatu keadaan yang membolehkan salah seorang yang akad atau masing-masing yang akad atau selain kedua pihak yang akad memiliki hak atas pembatalan atau penetapan akad selama waktu yang ditentukan. Khiyar disyariatkan antaralain untuk menghilangkan unsur kelalaian atau penipuan bagi pihak yang akad.

b. Khiyar Masyru' (disyariatkan) dan khiyar rusak
   1. khiyar masyru'
     khiyar yang disyariatkan adalah khiyar yang ditetapkan batasan waktunya. Hal ini didasarkan   pada hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda: "jika bertransaksi (jual-beli), katakanlah tidak ada penipuan dan saya khiyar selama tiga hari." (HR. Muslim)
   2. Khiyar rusak  
        Menurut pendapat para kalangan ulama Hanafiyah, Syafi'iyah, dan Hanbilah, khiyar yang tidak jelas batasan waktunya adalah tidak sah, seperti pernyataan, "saya beli barang ini dengan syarat saya khiyar selamanya", perbuatan ini mengandung jahalah (ketidak jelasan). Menurut ulama Syafi'iyah dan Hanbilah, jual beli seperti itu batal. Khiyar sangat menentukan akad, sedangkan batasanya tidak diketahui, sehingga akan menghalangi aqid (orang yang melakukan akad) untuk menggunakan (tasharruf) barang tersebut. 

c. Batasan khiyar Masyru'
   Ulama Hanafiah, Jafar, dan Syafi'iyah, membolehkan khiyar tersebut dengan waktu yang ditentukan selagi tidak lebih dari tiga hari. Mereka berpendapat bahwa waktu tiga hari adalah waktu cukup dan memenuhi kebutuhan seseorang. Dengan demikian, jika melewati tiga hari maka jual beli tersebut batal. Akan tetapi akad tersebut akan menjadi sahih, jiak diulangi dan tidak melewati tiga hari. Adapun menurut Ja'far, jika diulangi dan tidak melewati tiga hari, tidak dapat menjadi akad yang sahih.

d. Cara menggunakan Khiyar
cara menggunakan khiyar ada tiga cara
1.  Pengguguran jelas (sharih)
2.  Pengguguran dengan dilalah 
3. Pengguguran khiyar dengan kemadaratan 
Penggunaan khiyar dengan adanya kemadaratan terdapat dalam beberapa keadaan antara lain sbb:
    a. Habis waktu
    b. Kematian orang yang memberikan syarat
    c. Adanya hal-hal semakna dengan mati
    d. Barang rusak ketika masih khiyar
    e. adanya cacat pada barang
    f . Cara membatalkan atau menjadikan akad     

2. Khiyar Majlis
a. khiyar Majlis, menurut para ulama fiqih adalah hak bagi semua pihak yang melakukan akad untuk membatalkan akad selagi masih berada ditempat akad dan kedua pihak belum berpisah. Keduanya saling memilih sehingga muncul kelaziman dalam akad. Denagan demikian akan menjadi lazim, jika kedua pihak telah berpisah atau memilih.

 b. Pandangan para ulama tentang Khiyar Majlis
     1. Ulama Hanafiyah dan Malikiyah
        Akad akan dapat menjadi lazim denagan adanya ijab dan qabul, serta tidak bisa hanya dengan khiyar.
     2. Menurut ulama Syafi'iyah dan Hanabilah
         Jika pihak yang akad menyatakan ijab dan qabul, akad tersebut masih termasuk akad yang boleh atau tidak lazim selagi keduanya masih berada ditempat atau belum berpisah badanya. 

PENGERTIAN RIBA
Riba sering juga di artikan sebagai tambahan yang tidak disertai dengan adanya kompensasi. Tambahan nilai untuk pertukaran yang ada pada jual beli baik tambahan nilai uang, barang maupun kadar waktu. Di dalam sebuah transaksi jual beli atau pertukaran barang dan barang yang lain atau pertukaran harta dengan harta lain yang sama-sama menguntungkan dengan nilai yang telah disepakati dan tidak merugikan salah satu pihak. Maka hal ini hukumnya halal. Namun berbeda dengan riba, tambahan harta yang harus dikembalikan salah satu pihak ke pihak lain dalam transaksi jual beli ataupun pertukaran harta menjadikan kerugian untuk salah satu pihak bilamana terjadi penambahan nilai.
Pengertian riba juga bisa sebagai sebuah kompensasi tertentu yang kesesuaiannya dengan timbangan tidak diketahui dengan jelas sesuai syariat, baik pada waktu aqad berlangsung maupun ketika adanya penundaan barang yang ditukarkan. Ada tiga macam riba yakni: riba yadd, riba nasaa, riba qardl dan riba fadlal. Sebelum bahasan mengenai macam-macam riba, alangkah baiknya kita mengetahui hukum riba.
Hukum Riba
Dari pengertian riba yang ada yakni sebuah penambahan dalam tukar menukar atau jual beli maka hukum riba menurut syariat islam adalah haram. Keharaman riba ini berlaku baik untuk penambahan dengan nilai sedikit maupun dengan nilai besar. Larangan akan melakukan riba telah tertulis jelas dalam al-qur’an tepatnya pada surat Al-baqarah ayat 275 dan 279 beserta ayat-ayat berikutnya. Perbuatan riba sama halnya dengan dosa besar yang bahkan lebih besar daripada melakukan zina, mencuri bahkan minum khamer. Allah dan Rosulullah SAW telah melaknat siapapun yang memakan harta riba karena riba sudah jelas hukumnya haram dalam agama islam.
Macam-macam Riba
a.       Riba Yadd
Riba jenis ini terjadi adanya penundaan dalam membayar suatu barang. Kedua belah pihak yang melakukan transaksi ini telah terpisah dari tempat aqad sebelum di adakannya serah terima barang.
b.      Riba Nasaa’
Riba ini adalah penambahan nilai atas sanksi yang diberikan pihak pemberi hutang kepada orang yang melakukan hutang karena keterlambatan pembayaran hutang yang tidak sesuai dengan waktu jatuh tempo pembayaran.
c.       Riba Qardl
Peminjaman uang atau barang kepada orang lain dengan syarat si peminjam akan memberikan kelebihan atau keuntungan pihak yang memberikan pinjaman.
d.      Riba Fadlal
Riba jenis ini adalah mengambil kelebihan atau penambahan nilai dari adanya pertukaran barang yang sejenis.
Pembaca sudah membaca uraian di atas mengenai apa itu pengertian riba, hokum serta macamnya, semoga selanjutnya kita akan lebih berhati-hati dalam bertransaksi agar tidak terjerumus kedalam riba.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar